Doa Untuk Sekeranjang Tempe

July 11th, 2008 by fski-fkunand

Untuk bahan renungan Dan mawas diri…..
Semoga bermanfaat buat Kita semua Amin…..

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu
penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang
dapat dia lalukan sebagai
penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari
bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti
mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian dia
selalu
memaknai hidupnya…. …

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang
bambu
tempat tempe, dia
berjalan ke
dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi,
deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan
dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai,
belum
disatukan ikatan-ikatan putih
kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk
jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari
ini pasti dia tidak akan
mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia
olah
kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta
kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di
tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu
kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti
menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah
kedelai
ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu
kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan
doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus
tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang
masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus
tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya
belum semua menyatu oleh kapas-kapas
ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah
pasti
sedang “memproses” doanya. Dan tempe
itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya
yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe
setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku
tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu.
Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan
tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.
Bantulah aku, kabulkan doaku…”

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun
pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya.
Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu
belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang
tersebut.
“Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan”
Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian
atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali
dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan
keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi
tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu,
pelan-pelan.
Dan… dia terlonjak.
Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali
dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan?
Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia
ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian
batinnya
berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas
plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan
ada
yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa
sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku,
batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat
berjualan…
esok dia pun tak akan dapat makan.
Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya”
sesama penjual tempe di sisi kanan
dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena
tempenya telah laku. Kesedihannya mulai
memuncak.

Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak
jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa
cobaan itu terasa berat… Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan
menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik,
paro
baya,
tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang
setengah
jadi? Capek saya sejak pagi
mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??”

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa
menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat
menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi.
Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi.
Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu
segera
dia mengambil tempenya. Tapi, setengah
ragu,
dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”

“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu
lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini?
Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?”
ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan
daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun
yang hangat itu, dia lihat tempe
yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah! ” pekiknya, tanpa sadar.
Segera
dia angsurkan tempe itu
kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu
aneh
ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”
“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di
Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah,
agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi.
Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak
dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa,Bu?”

Kawan, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap
berdoa, dan “memaksakan” Allah
memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita
tidak dikabulkan, kita merasa
diabaikan,merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok
untuk
kita.
Bahwa semua rencana-NYA adalah sempurna